Sejarah Pondok Pesantren Darussalam Syafa’at Kali Moris
Dok. Foto tahun 2017
Pondok Pesantren Darussalam Syafa’at Kali Moris merupakan
lembaga pendidikan pesantren yang berada di daerah Tulang Bawang sebelah
utara Provinsi Lampung, tepatnya ±6 Km dari Kota Unit II Banjar Agung, ±27 Km
dari Kota Menggala Kabupaten Tulang Bawang, serta ±144 Km dari Kota Bandar
Lampung. Keadaan lokasi daerah tanahnya subur. Di sebelah barat dibatasi oleh
Sungai Kali Moris, sedangkan di sebelah selatan, timur, dan utara merupakan
tanah perladangan, sehingga lokasi pondok pesantren berada di tengah-tengah
perkebunan karet dan singkong.
Kiyai M. Ilham Fanani, A.Z., atau Prof. (H.C) Dr. Ky. M. Ilham,
S.E., M.M., merupakan tokoh utama pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren
Darussalam Syafa’at Kali Moris Banjar Agung Tulang Bawang. Beliau berasal dari
Desa Mulyosari Pasir Sakti Lampung Timur dan lahir di Mulyosari Lampung Timur
pada tahun 1985. Beliau merupakan anak ke-enam dari pasangan Bapak H. Ahmad
Zaed dan Ibu Ny. Mutiah.
Jenjang pendidikan beliau dimulai setelah menyelesaikan
pendidikan formal tingkat pertama di Lampung Timur. Setelah itu beliau
melanjutkan pendidikan formal dan mondok di daerah Jawa Timur, mulai dari
tingkat SMA/MA Al Amiriyyah Blokagung Banyuwangi, kemudian melanjutkan S-1 di
UIMSYA Blokagung Banyuwangi dan S-1 di UNARS Situbondo. Selanjutnya beliau
menempuh pendidikan hingga jenjang S-2 di Universitas Islam Malang (UNISMA) dan
kemudian melanjutkan pendidikan program doktoral Pascasarjana di Universitas Islam
Negeri (UIN) Raden Intan Lampung. Gelar Guru Besar Honoris Causa (H.C.)
diperoleh dari Universal Institute of Profesional Manajement (UIPM) Thailand.
Selain menempuh pendidikan formal, beliau juga pernah
nyantri dan mengaji kepada Kiyai Ahmad (Mbah Mat Tangkil) selama kurang lebih
tiga tahun, yang kemudian Mbah Mat pindah ke daerah Simpang Mesir Tulang
Bawang. Selain itu, Kiyai Ilham juga mengaji di Pondok Pesantren Nurul Hikmah
asuhan Kiyai Zaenal Fanani di Mulyosari Pasir Sakti Lampung Timur selama tiga
tahun. Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren
Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur, asuhan almarhum Romo KH. Mukhtar Syafa’at,
KH. Ahmad Hisyam Syafa’at, KH. M. Hasyim Syafa’at, dan KH. Ahmad Qusairi
Syafa’at mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2012. Selama kurang lebih sepuluh
tahun beliau belajar di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa
Timur.
Selama di pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Prof. Dr. Ky. M. Ilham, M.M. merupakan santri biasa yang belajar seperti santri pada
umumnya. Beliau juga mengabdi di pesantren dan mendapat tugas sebagai muadzin
tetap sholat lima waktu di masjid induk Pondok Pesantren Darussalam Blokagung.
Tugas muadzin tersebut beliau jalankan dengan ikhlas dan istiqomah hingga
beliau boyong atau pulang dari Pondok Pesantren Blokagung.
Pada tahun 2012 beliau pulang (boyong) dari Pondok Pesantren
Darussalam Blokagung dan menikah dengan salah satu santri Blokagung yaitu Ning
Hikmatul Hani’ah, putri dari Bapak KH. Sholihin Ahmad yang berasal dari Desa
Bagorejo Gumuk Mas Jember Jawa Timur. Namun pada saat itu keluarga beliau sudah
pindah dan menetap di Desa Trimukti Jaya Kecamatan Banjar Agung Kabupaten
Tulang Bawang Lampung.
Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai satu orang putra
dan tiga orang putri yang bernama Gus Ahmad Albi Alzam Afnan Ilham, Ning Aizza
Afwa Almahira Ilham, Ning Zahira Ghoyatu Qiswa Ilham, dan Ning Zahira Ghoyatu
Qisya Ilham. Putri beliau yang ketiga dan keempat merupakan anak kembar. Istri
beliau merupakan alumni Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi serta
alumni Pascasarjana S2 UIN Raden Intan Lampung tahun 2017. Selain itu Ibu Dr.
Nyai Hikmatul Hani’ah, M.Pd. juga melanjutkan studi doktoral di Pascasarjana
Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung.
Selama kurang lebih satu bulan tinggal di daerah Kali Moris
yang baru ditempati, berdatanganlah para sahabat beliau serta anak-anak dari
masyarakat sekitar yang ingin mengaji kepada beliau. Hal ini tidak diduga
sebelumnya bahwa ilmu yang diperoleh di Pondok Pesantren sangatlah berguna di
masyarakat. Keadaan masyarakat sekitar pesantren pada masa itu sangat awam dan
dikenal sebagai masyarakat abangan. Menghadapi keadaan yang demikian, beliau
dengan sabar dan penuh kasih sayang tetap membimbing masyarakat sekitar. Beliau
berdoa, “Ya Allah ya Tuhan kami, berilah petunjuk kaum ini, karena sesungguhnya
mereka itu belum tahu.”
Karena keadaan yang sangat mendesak serta adanya dukungan
dari masyarakat sekitar, maka timbul kemauan yang kuat untuk mendirikan tempat
pendidikan yang permanen sebagai tempat untuk mendidik para santri, sahabat,
serta masyarakat sekitarnya yang belum mengenal agama secara mendalam.
Dok. Foto tahun 2018
Pada hari Jum’at Kliwon tanggal 23 Oktober 2015 bertepatan
dengan tanggal 10 Muharram 1437 Hijriyah didirikanlah sebuah bangunan berupa
gubuk kecil yang sangat sederhana. Bangunan tersebut terbuat dari papan kayu
dengan atap asbes dan genteng dengan ukuran 6 x 8 meter. Tempat tersebut
digunakan sebagai tempat mengaji, tempat sholat, tempat tidur para santri,
sekaligus sebagai tempat tinggal beliau serta tempat untuk menemui para tamu.
Tempat ini kemudian diberi nama “DARUSSALAM SYAFA'AT” dengan
harapan semoga menjadi tempat pendidikan masyarakat sampai akhir zaman. Nama
Darussalam Syafa’at diperoleh melalui istikharah beliau melalui mimpi, di mana
beliau ditemui oleh seorang kiyainya dari Blokagung Banyuwangi sampai tiga kali
dan diberi nama Darussalam Syafa’at sambil menunjuk lokasi pesantren tersebut.
Isyarah tersebut diperoleh sekitar satu tahun sebelum berdirinya Pondok
Pesantren Darussalam Syafa’at Kali Moris.
Pondok Pesantren Darussalam Syafa’at kemudian diresmikan
pada hari Selasa Wage tanggal 24 April 2018 oleh almukarom Romo KH. Ahmad
Hisyam Syafa’at, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.
Pada awalnya rumah tersebut digunakan untuk mengaji dan
untuk tidur para santri bersama kiyainya. Namun dalam perkembangan selanjutnya,
kesederhanaan, kemasyhuran, dan kealiman beliau semakin dikenal sehingga banyak
masyarakat yang ingin menitipkan putra-putrinya untuk dididik di tempat ini.
Karena tempat tersebut tidak lagi mampu menampung para santri yang terus
berdatangan, maka timbul gagasan untuk mendirikan bangunan yang baru.
Pembangunan dilakukan secara gotong royong tanpa adanya tekanan atau paksaan dengan memanfaatkan bahan material bekas seperti kayu bekas cor, bekas bangunan sekolah, dan lain-lain. Pelaksanaan pembangunan dipimpin langsung oleh Bapak Kiyai bersama ketua pembangunan. Dalam waktu yang relatif singkat pembangunan tersebut selesai dan dimanfaatkan untuk menampung para santri yang berdatangan. Hingga saat ini pesantren menjadi tempat yang ramai untuk belajar dengan santri yang datang dari berbagai penjuru Pulau Sumatra dan Pulau Jawa.
Dok. Foto tahun 2023
Secara resmi pesantren ini berbadan hukum dalam bentuk
yayasan pada tahun 2015 dengan nama Yayasan Darussalam Syafa’at Tulang Bawang
berdasarkan Akta Notaris Rudianto Ramlan, S.H., M.Kn., Nomor 121 Tahun 2015.
Unit pendidikan yang dibuka pada awal berdirinya pesantren
yaitu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Darussalam Syafa’at, Madrasah Diniyah Al
Amiriyyah, pesantren putra putri, pesantren tahfidz, pesantren anak-anak, serta
pesantren Darul Aitam atau pesantren anak yatim. Kajian kitab yang dilestarikan
hingga saat ini adalah kitab salaf atau kitab kuning seperti kitab Tafsir
Jalalain, kitab Ihya’ Ulumuddin, kitab hadis, kitab fiqih, dan lain-lain.
Ketika memasuki tahun ajaran baru 2016–2017 sekitar lima
bulan setelah berdirinya pondok pesantren, dibuka unit pendidikan formal yaitu
SD, SMP, dan SMK Darussalam Syafa’at. Setelah berjalan satu tahun kemudian
dilengkapi lagi satu unit pendidikan formal yaitu TK Darussalam Syafa’at.
Selain itu pondok pesantren juga memiliki unit kegiatan lain
yaitu Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darussalam Syafa’at, Balai
Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Darussalam Syafa’at, Kelompok Budidaya Ikan
Tawar (POKDAKAN) Darussalam Syafa’at, Kelompok Tani (POKTAN) Santri Milenial,
serta mini market Alqimart.
Begitu pesatnya proses pengembangan Pondok Pesantren
Darussalam Syafa’at karena sang Kiyai selalu memohon doa dan restu dari orang
tua, para kiyainya, serta para gurunya, disertai dukungan dari masyarakat
sekitar. Pada awal berdirinya santri mukim berjumlah sekitar 50 santri putra
putri pada tahun 2016.
Tokoh lain yang ikut serta dalam proses pendirian Pondok
Pesantren Darussalam Syafa’at Kali Moris adalah KH. Sholihin Ahmad, yang
merupakan mertua dari Prof. Dr. Ky. M. Ilham Fanani, M.M., sekaligus sebagai
Ketua Dewan Pembina Pondok Pesantren Darussalam Syafa’at Kali Moris. Kiyai
Sholihin turut mengondisikan jamaah masyarakat serta para donatur agar dapat
ikut serta dalam proses gotong royong pembangunan pesantren. Beliau berasal
dari Desa Bagorejo Gumuk Mas Jember Jawa Timur dan pindah ke Tulang Bawang sekitar
tahun 1991. Beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren Darussalam Pare Kediri
asuhan almarhum KH. Faqih As’ari selama kurang lebih enam tahun. Kiyai Sholihin
dikenal sebagai sosok kiyiai yang hikmah dan karismatik di wilayah Unit III
Tulang Bawang Lampung.
Selain itu tokoh lain yang turut serta dalam proses
berdirinya pondok pesantren adalah Bapak Sukardi atau yang sering disebut
dengan nama Bapak Ribut. Beliau berasal dari daerah Kulon Progo Yogyakarta dan
datang ke Sumatra melalui program transmigrasi bersama kedua orang tuanya
hingga menetap di Kampung Moris Jaya Tulang Bawang.
Bapak Sukardi atau Bapak Ribut ditunjuk sebagai ketua
panitia tim pembangunan Pondok Pesantren Darussalam Syafa’at sejak awal
berdirinya hingga saat ini. Asal usul tanah lokasi pesantren berasal dari tanah
milik beliau. Pada awal proses berdirinya pesantren, Kiyai Ilham dan Bapak
Ribut melakukan transaksi tukar guling tanah.
Pada awal berdirinya luas tanah pesantren sekitar setengah
hektar, kemudian bertambah setengah hektar lagi, dan sebagian tanah lainnya
dihibahkan kepada pesantren oleh Bapak Ribut sehingga total luas tanah
pesantren menjadi sekitar tiga hektar kurang seperempat. Seiring berjalannya
waktu dari tahun ke tahun pesantren kemudian dapat memperluas dan menambah
lokasi tanahnya hingga saat ini luas lokasi Pondok Pesantren Darussalam
Syafa’at Kali Moris mencapai sekitar delapan hektar.
Mudah-mudahan Pondok Pesantren Darussalam Syafa’at Kali
Moris dapat menjadi tempat yang penuh keberkahan serta memberikan manfaat bagi
pengembangan pondok pesantren dan penyebaran ajaran Islam di Nusantara.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Profil Singkat Pondok Pesantren Drussalam Syafa’at Kali Moris
Tulang Bawang Lampung
A. IDENTITAS LEMBAGA
Nama Lembaga : Pondok Pesantren Darussalam Syafa’at
Nomor Statistk : 510318050061
Status : Salaf Terpadu
SK Menkumham RI : AHU – 0000058.AH.01.04 2015
Nama Yayasan : Yayasan Darussalam Syafa’at Tulang Bawang
Nomor Telp /Hp : +62 822-8962-0207 /0852-6742-3687
Alamat : Jl. Pon Pes Darussalam Syafa’at No.99 Kali Moris,
Kamp. Moris Jaya Kec. Banjar Agung Kab. Tulang Bawang
Desa : Moris Jaya
Kecamatan : Banjar Agung
Kabupaten : Tulang Bawang
Propinsi : Lampung
Tahun Berdiri : 2014
Nama Pendiri dan Pengasuh : Prof. Dr. Ky. M. ILHAM, SE. MM
Unit Pendidikan:TPQ, RTQ, Madrasah Diniyah, Ula Wustho, Ulya, TK, SD, SMP, SMK, Perguruan Tinggi
B.Tokoh Utama Pendiri Pondok Pesantren Darussalam Syafa’at Kali Moris Tulang Bawang
1.Prof. Dr. Ky. M.ILHAM FANANI A.Z, S.E., M.M
2.Dr. Ny. HIKMATUL HANIAH, S,Pd.I., M.Pd
3.Romo. KH. SHOLIHIN AHMAD
4.Bapak SUKARDI ( RIBUT)
5.Ny. WIJIATI
6.Ny. SITI AISAH

